Peringatan agar pengguna telepon selular (ponsel) berhati-hati terhadap masuknya panggilan atau pesan pendek (SMS) dari nomor-nomor tertentu––karena diisukan bisa menyebabkan kematian––diyakini sebagai bentuk pembohongan sekaligus pembodohan masyarakat. Sedangkan fakta adanya orang yang sakit setelah menerima atau melihat nomor-nomor tertentu yang masuk ke HP-nya, menurut keterangan medis lebih disebabkan karena kecemasan yang berlebihan atau anxietas.
Hingga Jumat kemarin, isu ’SMS merah‘ atau larangan menerima panggilan dari nomor-nomor tertentu, misalnya 0866 atau 0666 masih tetap meresahkan sebagian masyarakat pengguna ponsel. Apalagi di sejumlah daerah di Aceh, sudah ada laporan jatuhnya korban setelah menerima panggilan dari nomor-nomor yang diinformasikan itu.
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi NAD, Prof Dr Muslim Ibrahim MA kembali mengimbau masyarakat (khususnya umat Islam) agar tidak mempercayai isu tersebut karena sangat berbahaya. Mengutip keterangan Muslim Ibrahim kepada Serambi FM kemarin, isu ini bisa mempengaruhi akidah kita. Padahal, katanya, hidup, mati, dan jodoh semua di tangan Allah. “Sekarang kita lebih takut kepada nomor HP atau kepada setan-setan yang bergentayangan ketimbang kepada Allah. Kita seperti sudah diatur oleh setan-setan. Kalau kita sudah diatur oleh setan, itu kan syirik,” ujar Muslim.
Muslim mengingatkan, hendaknya semua kita tidak percaya dengan isu itu tersebut karena belum terbukti. Seandainya pun terbukti, itu adalah upaya untuk merusak akidah. “Solusi untuk menangkalnya adalah bertawakkal kepada Allah. Allah yang mengatur segalanya. Jangan gara-gara SMS itu agama kita rusak. Sekali Islam tetap Islam, sekali beriman tetap beriman,” tandasnya.
MPU dan Dinas Syariat Islam Aceh Barat juga mengimbau masyarakat untuk tidak percaya dengan isu melalui SMS yang jelas-jelas bisa membuat warga resah dan merusak keimanan. “Pesan melalui SMS itu menyesatkan. Soal kematian hanya Allah SWT yang menentukan,” kata Ketua MPU Aceh Barat, Tgk HM Nasir Waly Lc dan Plt Kadis Syariat Islam, Husaini TA.
Ketua MPU Aceh Utara, Tgk H Mustafa Ahmad, juga mengimbau masyarakat untuk tidak percaya dengan isu-isu yang tak jelas ujung pangkalnya, termasuk isu melalui SMS sebagaimana yang dihebohkan saat ini.
“Isu tersebut menyesatkan dan warga tak perlu percaya. Sebelum ajal pantang mati, kalau sudah ajal dalam peti terkunci pun kita tetap mati,” kata Abu Mustafa.
Kerjaan iseng
Seorang pakar telematika dari Indonesia, Roy Suryo secara khusus menanggapi heboh isu SMS merah tersebut. “Isu-isu seperti ini terjadi terus dari masa ke masa. Ini kerjaan yang berawal dari iseng-iseng yang dibungkus dengan sedikit bumbu (seperti nomor-nomor telepon tertentu bahkan ada yang mengutip WHO segala) biar kesannya ilmiah. Ujung-ujungnya adalah kejahatan,” kata Roy yang dihubungi Serambi dan Serambi FM, Jumat (9/5).
Diakuinya, isu SMS merah ini merebak di Indonesia sejak tiga hari lalu, yang berawal di Bengkalis, Riau kemudian merambah ke Medan, Aceh, Papua bahkan Jakarta.
Menurut Roy yang juga dosen Universitas Gajah Mada (UGM), apa yang dihebohkan itu adalah isu belaka yang tidak ada dasar ilmiahnya. Isu itu berkembang pada saat yang tepat ketika tidak ada isu sejenis. “Ada juga isu yang disebarkan agar mematikan HP pada hari Jumat pukul 10.00. Sebab kalau menerima panggilan dari nomor (misalnya 0866 atau 0666) bisa meninggal, baik diangkat maupun tidak. Tidak masuk akal dan jelas-jelas bohong,” tandasnya.
Roy juga mengutip informasi yang mengatakan di Jakarta sudah ada korban tujuh orang dan di Riau lima orang. “Semuanya itu bohong,” katanya.
Tak ada dasar teknis
Roy mengimbau masyarakat jangan cepat percaya dengan hal-hal yang tidak ada dasar teknisnya. Secara teknis, Roy berani menjamin kalau HP yang dikeluarkan oleh produsen sudah melalui proses pengecekan (sertifikasi), misalnya untuk Indonesia ada register dari Postel dan secara internasional oleh FCC (Federal Communication Commision) yang memberikan izin untuk produk teknologi tertentu.
Dari sisi teknologi, Roy juga yakin fasilitas di dalam HP, meski ada infrared atau bluetooth, tidak mungkin digunakan untuk menzalimi seseorang. Roy malah curiga, kejahatan ini merupakan bentuk percobaan untuk melemparkan isu dengan menggunakan teknologi infrared. Pada kesempatan berikutnya, bisa jadi ada lagi isu larangan menggunakan bluetooth karena ada sinar birunya atau blackberry karena warna hitam ada setannya.
“Fasilitas infrared yang ada di dalam HP kalau diukur powernya sangat kecil sekali. Jangan ditakut-takuti dengan radiasi, sebab semua barang elektronik ada radiasinya, tetapi semuanya sudah terukur,” katanya.
Ketika memberikan penjelasan, Roy kembali menegaskan bahwa isu yang sedang merebak ini adalah bohong dan tak usah digubris. Dia malah memberikan garansi, “Kalau pun ada korban, saya orang pertama yang akan membantu menyelidiki apakah benar-benar disebabkan oleh isu tersebut. Tapi saya hakkul yakin, tidak akan ada (korban).”
WHO membantah
Terkait maraknya isu “SMS Merah” atau Ring in Red (RiR) yang membawa-bawa nama World Health Organization (WHO), Press Officer WHO di Jakarta, Tommy menegaskan WHO tidak pernah mengeluarkan pernyataan apapun tentang RiR. Bahkan nama-nama profesor yang disebut-sebut dalam SMS yang membenarkan RiR tidak pernah dikenal di WHO jajaran manapun.
“WHO tidak ada sangkutpautnya dengan SMS tersebut. Kami sudah mengecek nama Profesor Blanca Lochar atau DR Adi Mok sama sekali tidak ada di lingkungan WHO manapun, baik di kawasan regional, nasional, maupun internasional,” tegas Tommy.
Komentar senada dikeluarkan dr Sulasmi, Staf OIC WHO di Banda Aceh, dari membaca SMS-nya saja ia langsung melihat itu adalah perbuatan orang iseng. “WHO tidak mungkin mengeluarkan statemen tidak logis walaupun sudah coba diilmiah-ilmiahkan seperti itu, sekali lihat saya langsung tahu itu SMS iseng,” papar Sulasmi.
Akibat kecemasan
Sejak dua hari terakhir, menurut laporan yang diterima Serambi, memang ada beberapa warga yang masuk rumah sakit setelah menerima atau membuka SMS yang disebut-sebut menampilkan warna merah.
Secara medis, menurut Wakil Direktur RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, dr M Andalas SpOG, pihaknya memang sempat merawat seorang pasien asal Bireuen bernama Ferawati (18). Namun berdasarkan hasil pemeriksaan CT-Scan, tidak ada kelainan apa-apa di otak pasien. Semuanya masih dalam batas normal. “Pasien tersebut mengalami kecemasan berlebihan atau dalam istilah medis anxietas,” kata Andalas.
Untuk menjawab keresahan masyarakat termasuk keluarga pasien, pihak RSU Zainoel Abidin telah berupaya melakukan pemeriksaan secara cermat pada setiap bagian kepala Ferawati. “Semuanya normal. Tak ada kelainan apa-apa. Juga tak ada pendarahan dari mata, telinga atau hidung seperti diisukan. Secara medis, tak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Andalas.
Pernyataan serupa juga disampaikan dr Akbar dari RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh yang dilaporkan sempat menangani lima orang warga yang disebut-sebut sakit mendadak setelah menerima SMS merah.
Menurut Akbar, dua malam lalu, pihaknya merawat lima warga dengan keluhan lemas dan sakit kepala. Setelah dilakukan observasi tak ada masalah. Bahkan, tiga orang di antaranya diizinkan pulang pada Jumat pagi. “Kondisi kelima pasien tersebut cukup stabil. Bisa diajak berkomunikasi namun kondisi mereka lemas. Sebelum mengalami gejala itu, mereka sudah sempat mendengar isu tentang SMS merah itu. Ini faktor kejiwaan akibat terlalu cemas,” kata Akbar.
Sugesti mayoritas
Tanggapan terhadap isu SMS merah itu juga disampaikan seorang psikolog Aceh, Dra Nur Janah Nitura Psi. Menurutnya, hebohnya isu itu karena masyarakat Indonesia, termasuk Aceh mudah sekali mempercayai isu-isu yang belum jelas. “Apalagi warga Aceh, sebagian masih trauma akibat konflik dan tsunami. Jadi pola pikir masyarakat mudah sekali ikut-ikutan atau sugesti mayoritas,” jawabnya.
Ia menyarankan, setiap menerima SMS dengan isu yang belum jelas, jangan langsung menyebarluaskan kepada yang lainnya. “Boleh dikirim, tetapi tak hanya sebagai pemberitahuan, melainkan untuk dikaji bersama-sama tentang kebenaran isi SMS itu. Kalau kira-kira kawan atau famili yang mudah tersugesti lebih bagus tak usah dikirim,” tambahnya.
Mengantisipasi agar keresahan tidak terus berlanjut, Nur Janah menyarankan Dinas Informasi dan Komunikasi lebih proaktif menjelaskan kepada masyarakat tentang berbagai isu yang sedang berkembang. “Pihak Infokom bertanggungjawab untuk menyampaikan kepada warga, apakah lewat pengumuman dengan mobil keliling di jalan, maupun melalui media lainnya,” sarannya.
Sedangkan penyebar isu melalui SMS tersebut, dinilai oleh Nur Janah adalah psikopatik atau abnormal. “Artinya, mereka senang ketika orang susah dan susah ketika orang senang,” ujarnya.
Amankan HP
Kapolres Aceh Barat, AKBP Linggo Wijanarko melalui Kasat Reskrim, AKP Deni Saputra yang dihubungi Serambi, Jumat (9/5) mangatakan, pihaknya sudah mengamankan dua unit HP milik warga yang disebut-sebut sakit setelah menerima pesan melalui HP tersebut.
Kasat Reskrim membantah isu yang menyebutkan ada warga Aceh Barat yang meninggal setelah menerima SMS atau menjawab panggilan HP. “Memang ada beberapa warga dirawat di RSUD Cut Nyak Dhien namun belum diketahui penyebabnya. Tak ada warga yang meninggal. Warga supaya tidak terlalu resah,” imbau Kapolres Aceh Barat.
Hingga Jumat kemarin, keresahan akibat isu SMS merah itu juga masih melanda sebagian warga Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Bener Meriah, Kota Lhokseumawe, dan Aceh Utara.
Contact service
Informasi terbaru dari Kota Banda Aceh menyebutkan, sekitar pukul 15.44 WIB, Jumat kemarin, ratusan warga Kelurahan Lingke, dihebohkan kejadian yang menimpa Halwani (21), mahasiswi Akbid Ubudiyah yang tinggal di Jalan Bale Gampong, Banda Aceh.
Ke HP Halwani dikabarkan masuk tulisan contact service berlatar merah. Setelah melihat itu, Halwani terlihat gemetaran sehingga rekan-rekannya langsung melarikan ke RSU Zainoel Abidin.
Halwani yang ditemui sejumlah wartawan dan aparat kepolisian menyebutkan, dari pagi kemarin HP-nya dinonaktifkan dan baru diaktifkan seusai Jumat.
“Saat aktif, bukan tulisan Telkomsel yang tampil di layar tetapi tulisan contact servive berlatar merah. Saya seperti tersengat sehingga langsung saya campakkan HP itu,” ungkap Halwani.(nas/mir/sal/riz/nun/az/ib)
Sumber : Serambi Indonesia
Mei 13, 2008
Kategori: Uncategorized . . Penulis: w4ryo . Komentar: Tinggalkan sebuah Komentar